Sedikit Membaca Tapi Banyak Menulis Apakah Bisa?

 

Saat ini bisa dikatakan saya lebih banyak menulis daripada membaca. Saya lebih banyak menulis posting blog daripada membaca posting blog di blogosfer. Jangankan membaca blog, membaca koran pun saya tidak sempat. Membaca majalah apa lagi. Tiga minggu yang lalu saya beli majalah Tempo dan sampai saat ini belum ada separo yang saya baca. Saya pernah membeli Media Indonesia, kira-kira sebulan yang lalu. Sampai saat ini, lipatannya masih rapi karena belum pernah saya buka. Saya langganan tabloid Kontan dari teman. Bacanya saya rapel sebulan sekali — berarti terdiri dari 4 tabloid mingguan dan 1 edisi khusus.

Hmm… Apakah ini bagus?

Saya ngeblog adalah untuk melampiaskan nafsu menulis saya. Otak saya liar dan kadang-kadang memiliki muatan yang harus saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Dulu saya suka menulis di buku harian. Ketika kenal dengan blog, saya mengganti media pelampiasan saya. Bukan lagi buku harian melainkan blog space.

Baca Juga : Cara Memainkan Chord Dm

Saya menulis, menulis dan menulis walaupun tulisan-tulisan itu tidak pernah menjadi buku. Tema tulisan saya beragam dan itu membuat saya sendiri kesulitan untuk mengorganisirnya menjadi buku. Dulu sekali, saya suka menulis mengenai politik. Tahun 2001 saya sudah kenal blog setelah sebelumnya pada 2000 saya mengenal homepage. Sedikit ceceran tulisan saya pada 2001 silam dapat dilihat di Sabda Kula. Tulisan-tulisan selanjutnya ada di Slemanlog. Tahun 2003 dan 2004 saya hidup di dunia offline dan tidak meninggalkan jejak di internet. Selanjutnya, saya banyak meninggalkan sampah, di antaranya melalui http://kombor.blogspot.com, http://kangkombor.blogspot.com, dll. Saat ini, selain blog ini, saya juga mengelola http://suaraku.com yang isinya adalah aspirasi politik saya, http://kombor.com yang berisi tulisan-tulisan tidak bermutu seputar topik bikin duit di internet, dan beberapa blog lain, termasuk http://blogportant.com yang merupakan transformasi dari arif.widarto.net.


Saya lebih banyak menulis daripada membaca. Bagi banyak orang, bisa jadi tulisan-tulisan saya akan dinilai garing dan kurang wawasan karena tidak adanya bahan bacaan saya. Hahaha…bisa jadi iya. Akan tetapi, saya punya pembelaan untuk itu. Saya menuliskan pemikiran, pengamatan atau pengalaman saya. Saya memang tidak suka mengutip dari akademisi atau praktisi top baik dari dalam maupun luar negeri. Saya berpandangan bahwa saya tidak perlu mencari dukungan pernyataan dari akademisi/tokoh lain atas apa yang saya paparkan. Kalau argumentasi saya mengandung kebenaran, tidak usah mengutip teori orang lain pun argumentasi saya akan mengandung kebenaran. Apalagi kalau yang saya tuliskan adalah pengamatan atau pengalaman, rasanya nggak perlu deh mengutip teori/pernyataan orang lain.

Saya akan terus menulis. Menulis apa saja walaupun bisa jadi tulisan saya tidak dibaca orang. Saya hanya mengandalkan belas kasihan search engine saja, bukan aktivitas blogwalking. Karena, maaf, lebih baik saya memanfaatkan sempitnya sela-sela waktu untuk menulis daripada membaca.

Aneh ya?

Related Posts

Post a Comment